Mempertanyakan etika infotainmen
JELAS sudah. Infotainmen benar-benar harus disingkirkan dari ranah jurnalisme. Membaca blog Indrani, saya semakin yakin bahwa infotainmen benar-benar cuma sekumpulan tukang dagang yang tak tahu aturan.
Well, saya memang tidak melihat bagaimana persisnya kejadiannya, tapi jika benar uraian Rani di blognya maka lonceng kematian infotainmen mestinya sudah berdentang.
Jurnalisme, idealnya, sama sekali tidak boleh menyingkirkan etika. Ironisnya, media-media kita malah menumbuhsuburkan siaran gosip yang menabrak rambu-rambu etika dan kemanusiaan.
Saya ingat cerita James Nachtwey, seorang fotografer veteran yang biasa meliput daerah konflik. Waktu terjadi kerusuhan Ketapang, Petojo, Jakarta Pusat, pada 22 November 1998, Nachtwey dihadapkan pada situasi serba sulit: Dia berada di tengah-tengah gelombang gerombolan pemuda bersenjata tajam yang sedang mengejar satu orang.
Berdasarkan kesaksian Nachtwey yang dibenarkan seorang saksi mata, Panji Wibowo, dia berusaha “menahan” laju gerombolan para pengejar, dengan bahasa tubuh, karena Nachtwey tak bisa bahasa Indonesia. Tapi rupanya dia tak kuasa membendung amarah kelompok pengejar. Akhirnya orang yang dikejar mati mengenaskan.
Sebagai seorang fotografer, bisa saja Nachtwey membiarkan sambil mengabadikan prosesi pembantaian itu berjalan dari detik ke detik. Tapi dia tidak melakukannya. Naluri kemanusiaannya berkata bahwa dia harus berusaha terlebih dahulu mencegah jatuhnya korban. Tapi ketika upayanya tak berhasil, sebagai seorang fotografer dia tetap memiliki tanggung jawab untuk mengabadikan momen itu.
Yang perlu dicatat adalah: dia terlebih dahulu berusaha mencegah.
Nah, bagaimana dengan yang dilakukan TransTV seperti dalam posting Rani?
Kesedihan dan drama sengaja diciptakan, bahkan diskenariokan. Lebih sadis lagi, kru Trans tidak terlebih dahulu memberi kabar perihal kematian taufik Savalas dengan harapan muncul spontanitas dramatis dari keluarga Taufik. Ini brutal.
Media-media Indonesia sudah sepatutnya diberi teguran keras dalam kasus-kasus seperti ini.

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Arki Atsema
Masya Allah! jaman memang udah edan!
Sebelumnya saya tidak tahu mengenai kabar tersebut, tapi setelah membaca ini saya jadi pengen muntah melihat dan mendengar para reporter infotainment. Jelas-jelas ini menyalahi etika jurnalisme dan saya sedih dengan fakta bahwa ini tidak hanya dilakukan sekali-dua kali, tapi sering kali.
Acara infotainment yang beredar akhir-akhir ini juga tidak lebih dari junk food, yang tidak ada makna dan isi. Bagaimana mau mencerdaskan bangsa kalau berita yang ditampilkan hanya menyodorkan hedonisme, kesuksesan instant, perselingkuhan, pacaran anak ABG, atau sensasi-sensasi murahan yang didramatisir begitu rupa. Mereka hanya menyodorkan kemasan yang begitu cantik namun ketika dibuka isinya cuma kecoa busuk yang menyebarkan penyakit.
Pemerintah? sejauh ini seperti hanya bisa diam menyaksikan jutaan rakyat dibodohi di depan tv di rumahnya masing-masing. Atau mungkin pemerintahpun sudah terkena virus infotainment sehingga ikut-ikutan “terbodohi”?
Rakyat Indonesia saya harap masih dapat berpikir jernih, meninggalkan segala bentuk pembodohan di layar kaca. Bangsa ini membutuhkan kebangkitan dan motivasi untuk menjadi negara yang berbudaya dan maju. Percuma mencanangkan berbagai program revolusioner kalo dari yang terdekat saja seperti tv masih belum bisa diatasi.
August 12th, 2007 at 1:24 am