You're here: My Media Blogging » IndoMedia Blog » Article: Radio mulai tersingkir?
RADIO adalah suatu anomali dalam tren media. Saya tidak tahu persis apa yang membuat radio bertahan di tengah terpaan media-media baru yang memanjakan manusia dengan aspek visual, audio, dan kecepatan.
Coba simak. Bahwa kini banyak radio baru bermunculan, dengan pendengar yang tetap eksis. Saya pernah mencoba menelepon suatu acara radio yang membuka interaksi dengan pendengarnya lewat telepon. Susahnya minta ampun untuk masuk. Line-nya selalu sibuk. Padahal itu terhitung radio tak terkenal, setidaknya buat saya.
Tapi tunggu dulu. Sebuah berita di Tempointeraktif mengatakan bahwa pendapatan iklan radio menurun.
Pengusaha radio merugi akibat gangguan interferensi radio ilegal dan radio yang tidak menempatkan frekuensi sesuai ketentuan. Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSNNI) mengindikasikan penurunan iklan yang cukup siginifikan akibat gangguan itu. Ketua Umum PRSSNI, Ganjar Djamhir, mengatakan rata-rata pendapatan iklan radio yang beroperasi di Pulau Jawa menurun hingga 40 persen dalam tiga tahun terakhir. “Dampak gangguan itu memang akibat ketidak percayaan pendegar dan pemasang iklan,” kata dia di Jakarta hari ini. Mereka tidak lagi mendengarkan radio atau beralih ke media informasi lain karena mutu siaran radio kurang bagus.
Apakah ini merupakan pertanda kehancuran radio?
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.