← Kembali ke halaman depan

Pers Indonesia di mata Yusril Ihza Mahendra

MENARIK membaca komentar mantan menteri sekretaris negara Yusril Ihza Mahendra di blog Yulian Firdaus. Dalam komentar yang panjang lebar Yusril menyinggung soal media massa kita yang masih belum bisa bersikap independen dan menjaga keseimbangan pemberitaan.

Masyarakat kita belum sepenuhnya kritis, dan tidak jarang dengan begitu mudah opini mereka dipengaruhi oleh pemberitaan, editorial, dan sejenisnya. Semua informasi dikira benar dan obyektif. Padahal, semua media tidak sunyi dari berbagai kepentingan, langsung maupun tidak langsung. Pemberitaan seringkali sepihak, berat sebelah, menggunakan kata-kata yang sarat nilai dan mengandung konotasi negatif. Saya hanyalah seorang yang berasal dari partai kecil, dengan dana yang sangat minim. Saya juga berasal dari Pulau Belitung yang kecil, dan dari suku bangsa yang juga kecil jumlahnya. Saya tidak sanggup menggalang opini publik dengan menjalin kolaborasi dengan mereka yang bekerja di balik media.

Saya tidak tahu persis di bagian mana yang dimaksud Pak Yusril karena saya hanya membaca selintas saja mengenai kasus yang melibatkan beliau. Tetapi mengenai kata-kata yang sarat nilai dan mengandung konotasi negatif memang masih sering kita temui.

Sebuah siaran siaran televisi, misalnya, dengan gamblang menyebut “…tewas dengan perut menganga…” dan lain-lain. Dalam ranah politik, masih sering kita dengar/baca kata-kata “manuver”, “licin”, yang mengandung nilai rasa yang berlebih.

Saya sendiri sebenarnya tidak tahu persis, sejauh mana pemilihan kata atau diksi diperbolehkan dalam suatu berita. Apakah ada di antara saudara yang bisa memberi penjelasan lebih detail?

Ikuti diskusi Ada 3 komentar untuk artikel ini.

  1. Badrut Tamam Gaffas

    Salut dengan Bang Yusril…
    Sekali lagi..selain Bang yusril pantas jadi presiden RI 2009 mendatang ternyata bang yusril bisa juga jadi presidennya PBB (Persatuan Blog Bermartabat) demi tercapainya independensi media yang tidak hanya diharapkan Bang Yusril tapi juga kita cita-citakan bersama

    December 16th, 2007 at 5:26 pm

  2. amru

    komentar 1 tentang kepatutan dalam pilihan diksi (bahkan ujaran atau tanda baca) media massa di negeri kita menurut saya penting.

    Sebab, dugaan saya: inilah salah-satu substansi keberatan pokok para pihak yang pernah memasalahkan atau meperkarakan pemberitaan media.

    Saya yakin sangat bisa dimengeri ‘keresahan dan rasa terluka’ pihak yang jelas-jelas disebut namanya beserta sudut pandang/opini/’atmosfer’ dalam apa yang disebut ‘koran nasional/Media Massa’.Bukankah dalam pertemanan, keluarga, tempat kerja tidak jarang anda/saya keberatan atas ‘pilihan kata/sudut pandang’orang tentang diri anda/saya? Bedanya tentu sangat terang komentar teman melintas dan berdampak terbatas dibenak beberapa orang dan dapat langsung diluruskan tapi tidak dan sangat-sangat tidak demikian halnya dengan koran nasional.

    Bukankah ini antara lain sebab mendasar melekatnya tanggung-jawab publik pada Pemimpin Redaksi Media. Jadi pertanyaannya kenapa mereka beralih dari pewarta berita kepada komentator/pembentuk opini dalam satu dan lain cara?

    Dalam isyu ini tentu saja laporan investigatif media harus dibedakan. Tapi bukankah bahkan pada laporan investigatif sekalipun melekat prinsip relevansi dan akurasi antara data,kesimpulan/penilaian, pilihan-pilihan kalimat,kata dan ‘nada’?

    harian Koran Tempo dan Kompas misalnya khas pemberitaan-pemberitaan keduanya tentang Yusril -dengan interaksi redaksional keduanya terutama dalam hal ketokohan,kebijakan dan pandangan hukum saat bertugas menteri- kesan saya telah dan sedang mempraktikkan pola menyamarkan berita dan opini terutama dalam pilihan diksi,sudut pandang dan ‘atmosfer’.Terakhir kesan saya itu muncul dengan sudut pandang Kompas tentang film Cheng Ho-nya Yusril.Wallahu a’lam

    June 16th, 2008 at 8:11 am

  3. harjanto

    Yth. Para pengelola media massa apapun jenisnya.
    Anda semua memegang kuas untuk menggambar diatas kanvas Indonesia Raya yang sama-sama kita cintai. Lukisannyapun beraneka. Abstrak, naturalis atau surealis. Tanggungjawab bukan hanya saat ini, tapi di kehidupan nan abadi kelak. Alih-alih menginformasikan suatu kejadian secara gamblang dengan harapan tidak diikuti tapi yang terjadi suatu pemberitaan kadang, kalau tak mau dikatakan sering, jadi inspirasi bagi pihak lain. Mungkin disinilah perlunya para pengelola media belajar diksi. Apakah suatu penjelasan harus selalu dijelaskan segamblang-gamblangnya? Nyaris tiap hari kita disuguhi berita kekerasan, aib keluarga, dsb. Sementara pundi-pundi mengalir deras dengan menjual isu. Menari diatas penderitaan orang. Barangkali, kita disamping belajar diksi perlu juga belajar seni agar suatu kejadian dapat disampaikan tidak secara vulgar. Selamat bekerja Insan Pers.

    August 21st, 2008 at 7:59 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)