You're here: My Media Blogging » IndoMedia Blog » Article: Media gagal bersikap proporsional untuk kasus Ryan
AKHIRNYA ada juga yang menyuarakan soal ini ke ruang publik.
Pemberitaan kasus pembunuhan berantai dengan tersangka Very Idam Henyansyah (30) alias Ryan telah melebar ke mana-mana, hingga menelanjangi sisi gelap kehidupan pribadi orangtuanya. Pengamat menilai, media gagal bersikap proporsional untuk kasus Ryan.
Sebulan terakhir, hampir tidak ada hari tanpa berita mengenai kasus Ryan. Televisi berlomba-lomba menyiarkan kasus itu pada berita pagi, siang, dan sore. Televisi juga mengupas kasus itu dalam acara diskusi, obrolan ringan, hingga infotainmen. Sebagian surat kabar mengupasnya dalam serial berita dan feature.
Kasus Ryan memang ”seksi” dan mengandung banyak dimensi. Di situ ada pembunuhan berantai dengan banyak korban, salah seorang di antaranya diduga artis sinetron yang juga disebut- sebut kerabat artis Rima Melati. Kasus Ryan juga dibumbui percintaan sesama jenis dan kisah keluarga yang tidak harmonis.
Ada banyak pilihan sudut pandang bagi media massa. Namun, hal ini justru membuat banyak media yang gagal meramu pemberitaan kasus Ryan secara proporsional. Pemberitaan media cenderung melukai orang yang tidak berkaitan dengan kejahatan Ryan. Mari kita lihat bagaimana media massa memberitakan kasus ini.
Ketika kasus pembunuhan berantai ini mulai terkuak, sebagian media mengaitkan kejahatan Ryan dengan latar belakangnya sebagai seorang gay. Dengan meminjam pendapat beberapa kriminolog dan psikolog, media mengatakan bahwa kaum homoseksual cenderung lebih sadis jika melakukan pembunuhan dibandingkan dengan kaum heteroseksual.
Banyak orang menelan begitu saja pemberitaan media. Seorang ibu di Bogor, Jawa Barat, seusai menonton berita kasus Ryan di televisi berkata, ”Wah, ternyata (kaum) homo itu menakutkan.”
Begitulah, stigma negatif terhadap gay menguat melalui berita-berita mengenai Ryan. Banyak pemberitaan yang menyiratkan bahwa semua gay seolah- olah bisa melakukan perbuatan sadis. ”Kami menjadi sasaran tudingan di mana-mana gara-gara pemberitaan media. Semua orang mencurigai kami seolah-olah kami ini pembunuh,” ujar Hartoyo, Sekretaris Umum Our Voice, sebuah LSM yang membela hak- hak kaum gay dan biseksual laki-laki, Kamis (31/7).
Ketika korban-korban Ryan lainnya—ternyata tidak semuanya laki-laki—ditemukan terkubur di halaman rumah orangtuanya di Jombang, Jawa Timur, media mulai mengupas sisi gelap orangtua Ryan, Ahmad dan Kasiatun.
Sebuah stasiun televisi dengan sumber tidak jelas mensinyalir bahwa Ryan bukan anak kandung Ahmad. Pasalnya, ibu Ryan, Kasiatun, diduga telah hamil empat bulan ketika menikah dengan Ahmad. Anak dalam kandungan itu adalah Ryan.
Stasiun televisi itu juga membumbui liputannya dengan mengatakan bahwa Kasiatun dulu dikenal sebagai gadis cantik yang genit. Sejauh mana sebenarnya relevansi kehidupan pribadi Kasiatun dengan kasus Ryan? Kalaupun Kasiatun terlibat dalam kasus tersebut, apakah tidak berlebihan jika media membeberkan kehidupan paling pribadinya itu?
Beberapa infotainmen juga membuat berita-berita dengan cantolan kasus Ryan. Ada yang menampilkan mantan gay—kebetulan pemain sinetron—yang sudah ”tobat”. Ada yang mengupas aroma mistik di rumah orangtua Ryan. Untuk mendramatisasi sisi mistik itu, sebuah infotainmen sampai-sampai ”mewawancarai” orang yang sedang kesurupan.
Komodifikasi
Herlina Agustin, Ketua Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, berpendapat, kasus Ryan benar-benar telah dikomodifikasi media massa, terutama televisi, demi mengejar rating. Kasus Ryan benar-benar jadi bahan dagangan.
Sayangnya, kata Herlina, banyak berita yang keluar jauh dari konteksnya. ”Bukan hanya kejahatan Ryan yang dipersoalkan, tetapi juga ke-gay-annya dan sisi gelap kehidupan pribadi ibunya. Ini berlebihan dan, menurut saya, kurang ajar,” tegasnya, Kamis.
Dia melihat, pemberitaan media mengenai Ryan tidak proporsional dan tidak adil. ”Media massa cenderung melakukan trial by the press, bukan hanya terhadap Ryan, tetapi juga keluarganya,” kata Herlina.
Menurut dia, media berani melakukan hal itu karena Ryan dan keluarganya hanyalah masyarakat kecil yang tak berdaya. ”Dia pengangguran dan gay yang secara sosial termarjinalkan. Bandingkan dengan tersangka korupsi Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani yang berdaya secara ekonomi dan politik. Apakah media pernah menyinggung soal sisi gelap keluarga mereka?” ujarnya.
Herlina melihat, ada kecenderungan media bersikap lebih kejam terhadap orang yang tak berdaya.
Koordinator Bidang Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yazirwan Uyun menilai, kasus Ryan memang memiliki nilai berita tinggi sehingga menjadi menu utama pemberitaan media di mana-mana. Sejauh ini, menurut dia, pemberitaan kasus itu di televisi masih proporsional.
Uyun mengatakan, pihaknya terus memantau pemberitaan kasus Ryan di televisi. Dia berharap masyarakat ikut memantau dan melaporkan ke KPI jika pemberitaan televisi mengenai kasus Ryan merugikan.
”Terus terang, kami tidak sanggup memantau semua berita di televisi,” katanya.
Sumber: Kompas.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
cURL error 52: Empty reply from server
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
FAKHRURRAZI
Kritik terhadap sikap media dalam meluncurkan pemberitaan Ryan seharusnya tidak boleh lepas dari sudut pandang news value yang dimiliki sebuah objek berita. Dimana news value itu juga memiliki sebuah keterkaitan erat dengan apa yang dinamakan rating untung media serta oplah bagi kelompok media cetak. artinya selama dengan pemberitaan seputar kasus ryan, rating segmen acara berita paa televisi terus meningkat serta oplah koran semakin melambung maka semua hal yang berkaitan dengan ryan sekecil apapun akan menjadi sesuatu yang layak untuk terus diberitakan secara kontinue. saya sangat yakin fakta diatas tidak dapat dipungkiri. karena sebenarnya kekuatan pengusaha media jelas sampai hari ini masih belum bisa dikalahkan oleh “tim Redaksi” media-media yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. dalam kondisi seperti ini sebenarnya banyak pihak yang harus turut bertanggung jawab. tidak hanya perusahaan media, redaksi tiap media ataupun Dewan Pers melainkan juga pemerintah. disinilah letak persoalannya. kapitalisme penguasa media ternyata masih diatas segala-galanya. prinsip usaha meraih keuntungan sebesar-besarnya ternyata masih belum bisa dikalahkan dengan apa yang disebut kode etik jurnalistik
August 20th, 2008 at 1:42 pm