Lativi siarkan EPL
AKHIRNYA penikmat siaran Liga Inggris (EPL) bisa sedikit bernapas lega Setelah sempat “disandera” oleh Astro, kini beberapa siaran EPL bisa disaksikan di saluran televisi milik Abdul Latief ini.
Salut buat Lativi!
AKHIRNYA penikmat siaran Liga Inggris (EPL) bisa sedikit bernapas lega Setelah sempat “disandera” oleh Astro, kini beberapa siaran EPL bisa disaksikan di saluran televisi milik Abdul Latief ini.
Salut buat Lativi!
SEDANG ada apa ya di dunia media nusantara? Kontroversi pemuatan tulisan M Guntur Romli? Ah, itu kan memang pekerjaannya, cara dia mencari uang: memancing kontroversi. Lalu, bagaimana Kompas bisa meloloskan artikel yang jelas bernuansa SARA itu? Ya, mungkin itu juga menjadi salah satu cara Kompas mencari uang? :p
Koran Tempo dan SCTV telah menjalin kerja sama untuk peliputan berita. Kabar ini saya dapatkan dari berita foto di Koran Tempo 3-4 hari lalu (agak basi ya? :D). Sebenarnya saya mau langsung tulis soal itu setelah saya melihat berita tersebut, tapi karena satu dan lain hal jadi tertunda.
Saya coba tanyakan soal ini kepada salah seorang redaktur utama Koran Tempo yang juga blogger selebritas itu :D.
Jawabannya cukup menarik.
“Kami sediakan mulut, mereka siapkan kamera,” katanya. Mengenai untung-ruginya, dia sendiri belum tahu.
Kalau melihat ‘nature’ televisi yang serba cepat, saya bisa menduga kalau Koran Tempo bakal menjadi “bulan-bulanan”.
Dugaan saya, ini dugaan lho, pihak Tempo akan dikuras untuk bisa menghasilkan data pendukung bagi laporan-laporan SCTV. Tim riset Tempo akan bekerja lebih keras untuk melayani redaksi SCTV.
Saya tidak tahu persis detail MoU-nya sih. Jadi, anggap saja dugaan itu sebatas nakal-nakalan pemerhati media partikelir amatiran, hehehe.
MASYARAKAT selama ini bingung bagaimana cara menyetop tayangan televisi yang merusak dan tidak bermutu. Golongan yang apatis dengan enteng bilang: “ya tinggal matikan atau pindah saluran aja!”
RADIO adalah suatu anomali dalam tren media. Saya tidak tahu persis apa yang membuat radio bertahan di tengah terpaan media-media baru yang memanjakan manusia dengan aspek visual, audio, dan kecepatan.
SEKADAR informasi. Kabar mengenai dibelinya seluruh hak siar Liga Primer Inggris oleh Astro di blog ini ternyata yang paling leading dalam hal kecepatan dan keakuratan. Sumber-sumber berita lain baru menurunkan beritanya hari-hari belakangan ini, dan kini menjadi diskusi yang cukup hangat di beberapa milis.
Sebuah bukti baru bahwa blog bisa dijadikan acuan dalam pemberitaan. Terutama blog ini :D
Sayangnya, rasanya saya harus bekerja keras menghapus komentar-komentar tak senonoh nih. Fyuh…
JELAS sudah. Infotainmen benar-benar harus disingkirkan dari ranah jurnalisme. Membaca blog Indrani, saya semakin yakin bahwa infotainmen benar-benar cuma sekumpulan tukang dagang yang tak tahu aturan.
BEGITULAH menurut sumber yang dapat dipercaya.
Salah siapa? Ya tidak ada yang salah. Kalaupun ada yang harus disalahkan ya kapitalisme itu, yang sudah merambah dunia media.
Astro dikabarkan memberi penawaran harga tertinggi untuk memperoleh hak siar seluruh pertandingan Liga Inggris. Artinya, tidak ada stasiun televisi lain yang bisa membeli secara “eceran” pertandingan-pertandingan Liga Inggris.
Dalam beberapa tahun terakhir, siaran Liga Inggris lebih menarik penikmat bola, dibandingkan Liga Italia. Selain karena kini ditaburi lebih banyak bintang, karakter permainan klab-klab Inggris lebih atraktif dibandingkan klab Italia yang cenderung membosankan. Apalagi, baru-baru ini sepak bola Italia tercoreng kasus suap yang membuat tim seperti Juventus mesti rela lengser ke Seri B.
Jadi, mau buru-buru pasang Astro, atau buru-buru mendemo Astro? :)
Berminat bekerja di Brunei? Koran The Brunei Times membuka lowongan untuk beberapa posisi. Wartawan (cukup) senior Indonesia, Sirikit Syah, sudah pindah ke sana.
Konon gajinya menggiurkan lho…
Pemerintah menargetkan, 15 tahun ke depan operator siaran (radio dan tv) hijrah ke sistem digital.
Kebijakan itu untuk mengurangi beban industri sehingga mereka bisa menggunakan perangkat siaran sampai usianya habis. “Penyelenggara industri penyiaran harus dapat menyelenggarakan simulcast atau pemancaran bersama antara siaran analog dan digital dengan kanal yang berbeda,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, M. Nuh, dalam rapat di gedung MPR/DPR, Jakarta. Sumber: Tempointeraktif.
Saya tidak tahu persis, bagaimana dampak digitalisasi siaran ini terhadap pemirsa, dan berita itu sendiri tidak merinci signifikansi perpindahan sistem tersebut.
Sebenarnya yang perlu menjadi perhatian Menkominfo yang baru adalah perihal penertiban siaran-siaran yang merusak, yang masih sering kita lihat.
Komentar Terbaru