Politik migas
MENARIK juga membaca opini Koran Tempo hari ini (12/3), ditulis oleh Edy Hafidl, praktisi migas:
Disadari atau tidak, secara ekonomi politik, sebenarnya kebijakan tentang pengelolaan migas suatu negara adalah cermin dari karakter kepemimpinan sebuah negara.
I couldn’t agree more, meski sebenarnya itu tidak terbatas pada masalah migas, tetapi semua komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Kembali ke laptop topik, secara ekonomi, mempertahankan harga BBM dalam negeri, dengan harga minyak dunia yang mencapai 103 dolar AS per barel adalah sebuah kemustahilan.
Tapi kita semua tahu lah, ini 2008. Artinya, setahun lagi pemilu. Perhitungan ekonomi harus ditahan demi kepentingan politik. Itulah jahatnya politik (kita).
Tapi, begini. Dalam bincang-bincang dengan seorang pakar energi dari UI, dia mengatakan bahwa rakyat kita memang terlena dengan subsidi. Padahal, jika beban subsidi BBM dari pemerintah bisa dikurangi sekian persen saja, sudah bisa dialihkan untuk kepentingan pendidikan atau kesehatan rakyat miskin. Artinya, subsidi selama ini masuk ke kantong yang salah.
Kebanyakan yang menikmati subsidi adalah para masyarakat berpunya (mungkin termasuk saya). Jadi, gimana? Ya jelas kebijakan politik pemimpin kita sekarang benar-benar jangka pendek. (Lagi pula, memang ada ya politikus yang berpikir jangka panjang?)
Satu lagi, saya sampai ngakak baca berita soal Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa pemerintah berhasil mengurangi angka kemiskinan. Nice try, pak!






Komentar Terbaru