Cendana masih digdaya?
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) membuat riset tentang popularitas keluarga Cendana (baca: Tutut). Meski katanya riset itu dilakukan “hingga Januari 2008″, penelitian tersebut mungkin dibuat sebagai respons atas drama politik mutakhir, di mana pascakematian Soeharto Tutut dan sebagian besar anggota keluarga Cendana “diperebutkan” oleh Golkar dan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
Golkar melihat ada peluang politis di balik masih besarnya perhatian masyarakat terhadap keluarga Cendana, seperti terlihat di pemberitaan media seputar kematian Soeharto.
Namun, menurut hasil riset LSI, jika Tutut ikut mencalonkan diri menjadi presiden pada pemilu 2009, dia hanya akan mendapat 1 persen suara (Koran Tempo (6/2)). Artinya, begitu besarnya antusiasme sebagian besar masyarakat atas kematian Soeharto tidak serta merta menjadi petunjuk bahwa digdaya politik Soeharto menurun ke anak-anaknya.
Sulit untuk menyanggah bahwa riset ini merupakan peredam wacana yang sengaja dipesan oleh pemerintah, mengingat kedekatan Saiful Mujani (Direktur LSI) dengan kalangan “penasihat politik” presiden termasuk Andi Mallarangeng.
Tapi entahlah. Saya sendiri tidak tahu seberapa penting wacana soal Tutut itu bagi dunia politik kita. Saya sih berharap hasil riset LSI memang menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena kita sudah tahulah sepak terjang keluarga Cendana (dan Golkar).

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.