You're here: My Media Blogging » Jurnal Politik » Article: Sri Sultan tetap capres dan tetap Gubernur DIY
Sri Sultan Hamengku Buwono X tetap bisa dicalonkan rakyat atau mencalonkan diri menjadi calon presiden pada Pemilihan Presiden 2009 dan posisinya tetap sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Tidak ada masalah jika Sultan menjadi calon presiden meskipun dia menjadi Gubernur DIY,” kata pakar Hukum Tata Negara Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Isharyanto, Selasa.
Lalu, bagaimana memaknai undangan SBY berikut ini?
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa (7/10) direncanakan bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X di Kantor Kepresidenan Jakarta untuk membicarakan sejumlah hal, termasuk telah dikeluarkannya Keputusan Presiden tentang perpanjangan masa jabatan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Hatta Radjasa mengatakan, salah satu agenda yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu adalah perpanjangan masa jabatan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur DIY selama tiga tahun yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden.
Sumber: Antara
Apakah tujuan perpanjangan masa jabatan itu terkait dengan upaya untuk menghambat Sultan menjadi capres? Tanyakan pada rumput yang bergoyang ;)
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
joko
Kita tunggu uu pemilihan presiden ditetapkan, dalam RUU disebutkan untuk pejabat yang diangkat dan ditetapkan wajib mengundurkan diri, sedang pejabat yang dipilih langsung oleh rakyat wajib cuti. Jabatan Gubernur DIY saat ini, untuk menunggu kepastian UU keistimewaan yogyakarta, maka diangkat atau diperpanjang untuk 3 tahun berikutnya. Hal ini dimaknai, karena perpanjangan masa jabatan melalui pengangkatan oleh presiden maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri. Bagi masyarakat akan menilai sultan sekarang adalah orang yang ambisius, jauh dari filosofi “tahta untuk rakyat”, pendapatnya juga tidak mencerminkan “sabda pandita ratu”. Tengok saja ketika isyu keistimewaan mulai bergulir, maunya gubernur seumur hidup, dan mulai mewacanakan merubah paugeran kraton penguasa dapat diganti oleh oleh perempuan [karena tidak punya anak laki-laki] dan terakhir mencalonkan diri calon presiden. Selama jadi gubernur kinerjanya birokrasi bagaimana? kinerja APBD DIY bgmn? kasus CDMA, JEC dsb tidak lepas dari tanggung jawab kepala daerah sebagai pengambil kebijakan, bukan hanya pejabat dibawahnya. Ini yang harus dikritisi. Bagaimana pula seandainya memimpin republik ini?… nyuwun ngapunten ngarsa dalem.
October 31st, 2008 at 11:13 am
dede
Kinginan sultan untuk menjadi capres diantaranya karena sudah tidak tahan lagi melihat penderitaan rakyat yang selama reformasi ini tetap banyak pengangguran. benarkah Sultan bisa menghadirkan solusi kemiskinan dan pengangguran di negeri ini? kita lihat saja kenirja gubernur DIY selama ini, pripun pak De..? (pak Dewan)
November 6th, 2008 at 11:09 am
Choliludin
Kalau beliau jadi presiden, harus siap-siap dengan berbagai macam karakter orang yang dihadapi tentunya. Kebiasaan seorang penguasa kerajaan seperti beliau sudah terbiasa dihormat ala kerajaan pula dan diperlakukan seperti raja. Saya melihat beliah di KickAndy seperti sedikit merasa kurang dihormati oleh gaya biaranya kickandy yang ceplas celpos.
November 8th, 2008 at 5:40 pm
Mr. Salim
Saya pikir, kalau Sri Sultan maju menjad presiden kemudian beliau tetap menjadi Gubernur DIY, betapa buruknya sistem pemerintahan Indonesia. karena, pertama Sri Sultan terlihat Pragmatis. Kedua, apakah tidak ada peraturan tentang rangkap jabatan?. Ketiga, Akan muncul kembali pandangan Presiden Indonesia harus orang Jawa. Terlebih lagi, Sri Sultan memang seorang Raja. Tetapi, saya khawatir ini pembusukan isu, karena sebetulnya Sri Sultan ingin mengundurkan diri sebagai Gubernur DIY beberapa bulan yang lalu.
December 14th, 2008 at 5:58 pm