Bukan karena bisa bermusik
WAPRES Jusuf Kalla rasanya menyentil Presiden SBY ketika mengatakan bahwa “rakyat memilih pemimpin karena mampu memberikan kesejahteraan, bukan karena kemampuan bermusik.”
Kita tunggu saja respons dari SBY. :D
WAPRES Jusuf Kalla rasanya menyentil Presiden SBY ketika mengatakan bahwa “rakyat memilih pemimpin karena mampu memberikan kesejahteraan, bukan karena kemampuan bermusik.”
Kita tunggu saja respons dari SBY. :D
Kenapa hari Minggu ya? Apa untuk meminimalkan protes? hehe. Yang pasti, kedua pasangan ini mesti buru-buru berbenah dan ancang-ancang untuk membuktikan janji-janji kampanye mereka (walaupun saya tahu persis kampanye tinggal kampanye). Politic(ian) sucks!
Tidak ada sosok yang benar-benar “fenomenal” dari para calon anggota baru KPU yang akan diumumkan oleh DPR 9 Oktober mendatang. Padahal, lembaga ini perlu bekerja keras untuk mengembalikan wibawanya setelah kasus yang menimpa Nazarudin Syamsudin dan Mulyana W Kusumah.
BURSA calon presiden untuk pilpres 2009 semakin riuh. Setelah Megawati dan Gus Dur, Sutiyoso menyatakan akan mencalonkan diri sebagai kandidat presiden.
Sebelumnya, Sutiyoso dikabarkan amat berniat menjadi Mendagri. Namun, kini mantan gubernur DKI Jakarta ini mengarah pada target yang lebih tinggi.
Nggak kebayang ya gimana jadinya Indonesia kalau bapak yang satu ini jadi presiden? :)
APA yang ditunjukkan oleh lembaga hukum sebesar Mahkamah Agung belakangan ini benar-benar memalukan dan membuat kita miris. Sepak terjang MA dalam mengelola dirinya, terutama terkait dengan berbagai perkara-perkara yang “basah” rasanya sudah menjadi rahasia umum. Maka, ketika pengelolaan keuangan mereka tidak mau diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kita menjadi “maklum”.
Namun, bukan berarti masalah ini mesti dibiarkan begitu saja. Mahkamah Konstitusi, sebagai lembaga yang paling berwenang menyelesaikan perkara antarlembaga negara (MA vs BPK) mesti melakukan langkah-langkah hukum yang taktis dan bisa memenuhi rasa keadilan masyarakat. Kalau ternyata tidak terselesaikan, lebih baik bubarkan saja MK dan MA sekalian. Buat apa kita memelihara aparat hukum yang tumpul?
ADA berita menarik. Gus Dur menyatakan bersedia kembali dicalonkan menjadi presiden untuk Pemilu 2009. Dengan catatan: direstui oleh 5 kiai sepuh.
Saya tertarik dengan pernyataan Gus Dur soal “direstui oleh 5 kiai sepuh” itu. Mungkin itu menunjukkan bahwa Gus Dur masih bisa memainkan peran sebagai nahdliyin yang tetap memegang teguh tradisi. Bukan semata-mata sebagai politikus an sich yang haus kekuasaan. Tapi, tunggu dulu.
Seorang sumber dari Pondok Pesantren Buntet mengatakan bahwa berhubung di Buntet tidak ada lagi kiai sepuh, maka mereka manut apa kata Gus Dur. Di sisi lain, Gus Dur sendiri masih bertekad menjadi presiden karena ingin memperbaiki perekonomian Indonesia.
“Saya sudah mempersiapkan strategi khusus untuk masalah perekonomian di negeri ini,” ujarnya.
Artinya, perkara mandat atau restu rasanya hanya eufemisme politik belaka. Gus Dur masih berambisi kembali ke singgasana yang pernah didudukinya. Salahkah? Tentu tidak. Ini politik.
SETELAH bersedia dirangkul (atau merangkul?) Partai Golkar melalui “Pertemuan Medan” beberapa waktu lalu, PDIP melebarkan sayapnya dengan mendekati Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Kemarin Ketua Umum PPP Suryadharma Ali bertemu dengan pemimpin PDIP di Jalan Teuku Umar, Jakarta. “Kami memiliki chemistry yang sama. (Pertemuan) ini untuk menyamakan persepsi soal Pemilu 2009.
Langkah ini semakin menunjukkan bahwa PPP tidak lagi mewakili golongan hijau (Islam) melainkan sudah bergeser ke ideologi nasionalis. Dalam politik memang tidak ada kawan atau lawan sejati.
MEGAWATI dikabarkan akan kembali mencalonkan diri dalam keriuhan pemilu presiden 2009.
Ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri masih memiliki peluang untuk menjadi presiden. Namun, menang tidaknya Megawati akan sangat tergantung dari partai penyokongnya. Sumber: Tempointeraktif.
Hehehe. Ada juga orang yang betah terus-menerus menjadi wayang ya? Fakta ini sekaligus menjadi cermin betapa kita kekurangan figur pemimpin. Tokoh-tokoh kita ya itu-itu aja: Megawati, Gus Dur, Amien Rais, Wiranto, Sri Sultan. Bisa sebutkan yang lainnya?

Meskipun saya tidak terlalu yakin kalau usaha ini akan membuahkan hasil, paling tidak kita berharap agar penegak hukum serius dan bekerja keras menuntaskan kasus ini. Anda yakin? Baca selengkapnya »
Partai Golkar tampaknya gerah karena banyaknya kader-kader Partai Beringin itu yang dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Buktinya, mereka meminta KPK datang ke kantor pusat partai itu di kawasan Slipi. Wah!
JAKARTA — Ketua Fraksi Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengatakan partainya sedang mempertimbangkan kemungkinan mengevaluasi Komisi Pemberantasan Korupsi. “Karena banyak yang menganggap Komisi ini sebagai super body, dengan kewenangan yang besar sekali,” katanya kemarin di Jakarta. Priyo membantah jika disebutkan Golkar telah menekan KPK melalui pertemuan di kantor pusat partai itu di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Rabu malam lalu. “Kalau menekan, mestinya kami yang akan mendatangi KPK. Ini kan, kami yang mengundang.” Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Yasona Laoly, mengatakan pemanggilan KPK oleh Golkar itu tidak wajar. Dia meminta agar hal itu tidak menjadi upaya menghalangi tugas dan fungsi KPK. “Ada kesan pemanggilan itu untuk melindungi mereka yang sedang berurusan dengan KPK,” katanya.
Sumber: korantempo.com
Komentar Terbaru